Maduran, 19/09/2026. Ada yang menarik dari pidato puncak Harlah ke-97 PC LP Ma'arif NU Babat tahun 2026. Di panggung yang seharusnya menjadi perayaan lima penulis cerpen terbaik dan para penulis lainnya, seorang tokoh justru melontarkan kritik yang menohok: semestinya pagi jelang siang itu bukan penganugerahan menulis cerpen, melainkan penganugerahan amalan sunnah Rasul.
Sekilas, kalimat itu terdengar seperti anti-sastra. Seolah sastra dan agama dipertentangkan. Padahal jika kita renungkan lebih dalam, kritik itu justru sedang mengembalikan cerpen ke tempatnya yang paling mulia dalam tradisi pesantren dan Ma'arif.
Mari kita urai.
Apa sebenarnya menulis cerpen? Dalam definisi paling sederhana, cerpen adalah cerita pendek yang fiktif, padat, dan berfokus pada satu momen kesadaran. Ia tidak bertele-tele, ia tidak ceramah. Ia bekerja dengan cara yang halus: mengajak pembaca masuk ke kehidupan orang lain selama sepuluh menit, lalu keluar dengan hati yang sedikit berbeda. Di tangan siswa-siswa Ma'arif, cerpen adalah latihan kepekaan.
Lalu apa itu sunnah Rasul? Sunnah bukan hanya jenggot, sorban, atau siwak. Sunnah adalah seluruh jalan hidup Rasulullah SAW: perkataannya, perbuatannya, dan ketetapannya. Ulama membaginya menjadi sunnah qauliyah, fi'liyah, dan taqririyah. Intinya, sunnah adalah cara hidup yang membuat hidup orang lain menjadi lebih baik, lebih jujur, lebih beradab, dan lebih dekat kepada Allah.
Selama ini kita terjebak dalam dikotomi yang salah. Kita mengira urusan cerpen itu urusan dunia, urusan lomba, urusan piala dan piagam. Sementara urusan sunnah itu urusan akhirat, urusan masjid dan pesantren. Padahal Rasulullah sendiri adalah pendidik dengan kisah. Beliau tidak selalu menyampaikan kebenaran dengan ayat panjang, tapi dengan cerita. Cerita tentang pengemis Yahudi buta, tentang seorang pelacur yang memberi minum anjing, tentang tiga orang yang terjebak di gua. Itu semua adalah cerpen versi langit.
Maka kritik di panggung Harlah itu benar, tapi kurang lengkap. Yang seharusnya dikatakan adalah: penganugerahan cerpen ini adalah penganugerahan amalan sunnah Rasul, jika kita tahu caranya.
Menulis cerpen itu bukan sunnah secara bentuknya. Rasulullah tidak pernah menulis cerpen dengan format seperti yang kita kenal sekarang. Tapi ia bisa menjadi bernilai sunnah kalau niat dan isinya benar. Ibadahnya bukan di tulisannya, tapi di apa yang kamu sampaikan lewat tulisan. Di sinilah letak revolusi yang ditawarkan guru-guru Ma'arif PCNU Babat melalui cerpen-cerpennya.
Agar menulis cerpen bisa menjadi amalan sunnah, ada tiga jalan yang bisa ditempuh oleh para penulis kita.
Pertama, luruskan niatnya.
Niat adalah pembeda antara sekadar karya dan amal jariyah. Niatkan menulis bukan untuk viral saja, bukan untuk follower, bukan untuk terlihat paling sastra. Niatkan untuk ibadah. Ketika niatnya adalah menyebarkan ilmu yang bermanfaat, maka cerpenmu menjadi sedekah jariyah. Ketika niatnya adalah amar ma'ruf nahi munkar, mengajak orang pada kebaikan dengan cara yang tidak menggurui, maka cerpenmu menjadi dakwah. Ketika niatnya menghibur orang yang susah dengan cara yang halal, membuat seorang santri yang rindu rumah tersenyum, maka itu pun ibadah.
Rasulullah bersabda, "Sampaikan dariku walau satu ayat." Di zaman ini, satu ayat itu bisa disampaikan lewat satu paragraf cerpen yang jujur.
Kedua, isi cerpennya jadi dakwah halus.
Kumpulan cerpen guru-guru Ma'arif tidak perlu menjadi khotbah kedua. Ia cukup menjadi cermin. Bikin cerita yang pembacanya jadi lebih baik setelah membacanya.
Angkat nilai-nilai sunnah yang sudah mulai langka: kejujuran seorang pedagang kecil yang menolak mengurangi timbangan, sabar seorang ibu yang mendidik anak berkebutuhan khusus, cara seorang pemuda memuliakan pasangannya dengan menjaga pandangan sebelum akad, birrul walidain di tengah godaan merantau, atau perjuangan menjaga lisan di tengah budaya ghibah media sosial.
Sebaliknya, hindari yang dilarang. Jangan ada pornografi yang dibungkus atas nama realisme, jangan ada glorifikasi zina, perselingkuhan, LGBT, atau kekerasan yang detil dan dinikmati. Sastra yang baik tidak perlu menjual luka untuk terlihat dalam.
Dan yang paling penting, beri solusi Islami. Jika tokohmu punya masalah, jangan selesaikan dengan jalan pintas yang bertentangan dengan ajaran. Selesaikan dengan cara yang diajarkan Islam: dengan shalat, dengan doa, dengan musyawarah, dengan taubat, dengan memaafkan. Itu bukan berarti ceritanya jadi tidak realistis, justru di situlah letak kejujuran sastra pesantren yang ihyaus sunnah.
Ketiga, jaga adab menulisnya.
Sunnah bukan hanya soal apa yang ditulis, tapi bagaimana cara menulisnya. Menulislah dengan jujur, tidak bohong atau mengarang fitnah atas orang lain. Gunakan bahasa yang baik, tidak kasar dan tidak menghina, apalagi menghina kelompok lain. Inilah adab santri. Dan jika mengutip ayat atau hadits di dalam cerpen, pastikan sumbernya shahih. Jangan asal comot agar terlihat Islami.
Jika tiga hal ini dipenuhi, maka rumusnya menjadi sederhana:
> Niat karena Allah + Cerita mengandung kebaikan + Tidak ada maksiat di dalamnya = InsyaAllah jadi pahala jariyah.
Setiap orang yang membaca cerpenmu lalu tergerak untuk jujur, untuk sabar, untuk memaafkan, untuk kembali shalat, maka kamu mendapat pahala yang sama tanpa mengurangi pahala dia sedikit pun.
Akhirnya, kritik di Harlah ke-97 itu tidak perlu kita anggap sebagai penolakan terhadap cerpen. Justru itu adalah undangan untuk naik kelas. LP Ma'arif NU selama 97 tahun telah mengajarkan kita bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar piala, tapi tempat mencetak peradaban.
Maka selamat untuk lima penulis terbaik dan penulis lainnya. Piala yang kalian bawa pulang pagi jelang siang itu semoga bukan akhir, tapi awal. Bukan sekadar bukti kalian pandai merangkai kata, tapi bukti bahwa kalian telah menghidupkan satu amalan sunnah Rasul: menyampaikan kebaikan dengan cerita.
Lek Zen
LP Ma'arif NU Babat
No Telp : 0857 8555 5499
Jalan Raya Babat-Surabaya No. 9,
Tritunggal, Babat
© Copyright 2023 | All Rights Reserved by LP Ma'arif NU Babat